180o Berbeda
Setelah Merantau
Suara itu terdengar
kembali seperti biasa, “Proak.......proak!!!!” Suara gelas pecah, kebisaan Dion
yang sering melempar piring untuk meluapkan rasa kesalnya.
“Kenapa kamu melempar gelas lagi ion?
Memangnya sedang ada masalah apa?” ujar ibunya Dion sambil geleng-geleng
kepala, karena tidak habis fikir dengan sifat anaknya itu.
Dion pun langsung pergi dengan muka
kesalnya itu, tanpa menanggapi petannyaan ibunya.
Semenjak ayahnya Dion
wafat, Dion menjadi orang pemarah. Terkadang bu Umah(ibunya Dion) pun kewalahan
dalam menangani sifat Dion yang semakin hari terus seperti itu. Meskipun semua
orang tahu dengan sifat Dion yang seperti itu, namun Dion tidak pernah marah
dengan orang lain. Dion hanya meluapkan rasa kesalnya dalam keluarganya saja,
entah itu sama adiknya ataupun barang perkakas di rumahnya seperti piring/gelas
yang sering menjadi sasaran kemarahannya.
Terkadang Dion pernah
memukul adiknya, karena adiknya telah membuat keponakannya menangis.
Dion memukul kepala adiknya dengan kaki
“Apa yang telah kamu lakukan sama Lupus(keponakannya)? Sampai-sampai Lupus
menangis seperti itu?”
Dengan suara yang lantang adiknya Dion
pun mengatakan “Aku hanya bercanda aja sama dia cuma dianya saja yang lebay”.
Dibalik sifat Dion yang suka
marah-marah, ternyata dia juga memiliki rasa sayang dan perhatian, namun cara
Dion dalam mengingatkan adiknya itu salah.
Tidak hanya itu, Dion
juga pernah membuang semua makanan yang telah dimasak ibunya ke dalam sumur
(sumber air). Dion membuang semua makanan tersebut karena dia kurang suka
dengan masakannya itu, meskipun masakan tersebut sebenarnya enak.
“Kenapa semua makanannya dibuang ion?
Kalau kamu tidak suka makanan tadi, biar ibu masakan lagi buat kamu, tapi kamu
jangan membuangnya seperti itu mubazir Dion. Cari uangpun juga susah” dengan
rasa kecewa dan penuh kesabaran bu Umah menasihati Dion.
Lagi-lagi Dion tidak menghiraukan
perkataan ibunya dan langsung pergi keluar rumah, terlalu sering Dion menyakiti
perasaan ibunya, entah itu disengaja maupun tidak disengaja yang jelas bu Umah
tetap tegar dan sabar dalam menghadapi sifat Dion yang sampai sekarang ini
belum berubah.
Tiap malam bu Umah
selalu sholat malam dan selalu berdo’a kepada Allah SWT, agar diberikan
kesabaran dan ketabahan dalam mendidik anaknya dan juga supaya dibukakan pintu
hati Dion. Namun bu Umah masih diuji oleh Allah SWT karena sampai sekarangpun
sifat Dion masih belum berubah. Semua keluarga Dion tidak sanggup mengatasi
sifatnya yang semakin hari semakin menjadi-jadi, namun sosok ibulah yang masih
sanggup mengatasi anaknya meskipun sudah banyak perasaan yang beliau korbankan.
Sosok ibu pasti akan berusaha untuk merubah sifat anaknya untuk lebih baik,
memang merubah sifat seseorang tak semudah membalik telapak tangan.
Keesokan harinya, Dion
meminta uang kepada ibunya namun apa yang terjadi?.
“Bu?” tiba-tiba Dion menyapa ibunya
dengan suara yang lembut dan pelan.
Dan ibunya pun menjawab dengan senyum dan
suara yang halus “Iya anakku”
“Bu, ibu masih punya uangkan? Boleh Dion
minta uang?”
“Boleh-boleh saja nak...”
belum tuntas bu Umah bicara, dengan
riangnya tiba-tiba Dion langsung menyambung perkataan ibunya
“ Boleh Dion minta uang 200 ribu, bu?”
“Sebentar
dulu ion ibu belum selesai bicara, boleh-boleh saja Dion minta uang sama ibu
namun kondisinya, sekarang ibu tidak punya uang”
bu Umah melanjutkan perbincangannya yang
dipotong Dion tadi.
Dengan tiba-tiba wajah Dion yang semula
ramah dan penuh dengan senyum berubah menjadi wajah yang menakutkan dan
menyeramkan
“Kenapa tidak bilang dari tadi sih bu?
Buang-buang waktuku saja”
“Maafin ibu Dion” berlinang air mata bu Umah
dipipinya,
“Sudahlah bu!!!! Memang ibu tak pernah
bisa membuat Dion bahagia” dengan kecewa dan suara yang keras Dion mengatakan
seperti itu.
Mendengarkan perkataan Dion seperti
itu membuat bu Umah semakin menangis.
Seringkali Dion menyakiti perasaan ibunya, namun baru kali ini bu Umah menangis
entah apa yang membuat beliau menagis, biasanya bu Umah kuat dan tegar dalam
menghadapi sifat Dion yang seperti itu, tetapi perkataan Dion kali ini mampu
membuat bu Umah menangis, mungkin perkataan Dion sangat menyakiti hati sehingga
ketegarannyapun tergoyahkan. Selama Dion pergi dari rumah ia bertemu dengan
teman-temannya. Salah satu teman
Dion, yang bernama Bian memanggil Dion
“Woy
Dion?”
“Yo Bian, ngapain kalian disitu?” sambil
nunjuk-nunjuk temannya,
sahut temannya yang lain “Yow, gabung sini ”
“Okelah”
Dion langsung bergabung sama teman-temannya,
“Kenapa sih kok muka kamu kusut begitu?
Seperti pakai yang belum diseterika saja” salah satu temannya mengejek Dion
“Udahlah kalian semua nggak usah
bercana”
“Iya,iya maaf, ada masalah apa sih?
Kelihatannya serius banget.”
“Tadi aku minta uang ibu, tapi ibuku
nggak punya uang, sebel banget aku”
“Maklumin sajalah ion, toh ibu kamu juga sudah tua. Aha.....
saya punya ide nih. Gimana kalau kita merantau? Cari uang gituh?” jawab Bian
“Oke aku setuju” teman-teman yang
lainnya setuju dengan ide Bian
“Gimana Ion? Setuju nggak?” tanya Bian
“Hmmmmm gimana yah......? okelah, aku
juga setuju” jawab Dion
“Yaudah yah? Saya pulang dulu.” Pamit
Bian ke teman-temannya
“Oke aku juga mau pulang” jawab Dion dan
teman-teman yang lainnya
Akhirnya merekapun pulang kerumah
masing-masing dan siap-siap untuk persiapan besok.
Setelah sampai di rumah,
Dion meminta izin kepada ibunya untuk merantau
“Bu, Dion besok akan merantau, untuk
mencari uang” dengan suara yang agak keras karena masih kesal dengan kejadian
tadi.
“Iya Dion, asalkan kamu bahagia ibu akan
mengizinkan”.
Hari ini, Dion gunakan untuk
mempersiapkan keberangkatan merantau untuk esok hari.
Keesokan
harinya, semua persiapan sudah siap
dan....
“Ion sudah siap? Yuk capcus” teman-temannya menghampirinya
“Iya, ini juga sudah siap”
“Bu, berangkat dulu” Dion mencium
tanggan ibunya
“Iya hati-hati ya ion”
“Tante kami pamit dulu” teman-teman Dion
juga berpamitan dengan bu Umah
“Iya hati-hati ya semuanya”
Merekapun berangkat dengan mengendarai
mobil Bian, tujuan mereka adalah ke Kalimantan.
Ini
adalah pertama kalinya Dion bekerja di pulau orang, jadi Dion harus bisa tertib
dan disiplin jika tidak mau di pecat dari pekerjaannya. Terbiasa dengan hidup
disiplin selama empat tahun lamanya, Dion akhirnya menjadi orang yang dapat
bertanggung jawab dan disiplin, baik disiplin pekrjaan maupun disiplin waktu.
Setelah
empat tahun lamanya, akhirnya Dionpun pulang ke halaman rumahnya. Bersama
teman-temannya Dionpun pulang ke halaman rumahnya, dan setelah sampai di rumah
masing-masing, bu Umah terkejut dengan perubahan yang dialami Dion.
“Selamat pagi ibu?” sapa Dion
“Iya selamat pagi, siapa yah?” ibu
Dionpun tak mengenalinya
“Masa ibu lupa? Ini Dion bu.”
“Ha.... Dion?” ibu Dionpun tercengang
melihat anaknya
“Iya bu ini Dion” dengan rasa haru Dion
memeluk ibunya
“Ya Allah Dion, ibu rindu sekali sama
kamu, kamu yang sekarang tampak beda dengan kamu yang dulu” terurai air mata
kebahagiaan di mata bu Umah
“Lupus? Ini Lupuskan?”
“Iya kak ini Lupus” Lupus memeluk
kakaknya
“Lupus senang akhirnya kakak pulang
juga”
“Iya kakak juga senang bisa bertemu
kembali dengan Lupus”
“Kakak ada oleh-oleh buat lupus”
“Yey.....apa
kak oleh-olehnya?”
“Ada deh”
“Mari masuk dulu” ujar ibunya
“Oleh-olehnya dilihat di rumah saja ya?”
“Oke kak, ayo”
Merekapun masuk rumah, sambil masuk
rumah bu Umah merangkul pundak kedua anaknya dengan penuh rasa kebahagiaan.
Bu Umahpun akhirnya
senang dengan perubahan yang terjadi pada Dion tak sia-sia Dion pergi merantau,
selain mendapatkan uang Dion juga mendapatkan perubahan yang positif. Setelah
merantau akhirnya Dion dapat mengikhlaskan kepergian ayahnya dan ia mengerti
betapa sulitnya mencari uang, berlomba-lomba mencari uang dengan kondisi jumlah
penduduk yang semakin padat dan lahan pekerjaan yang semakin menyempit. “Sekali
mendayung dua pulau pun terlampaui” itulah yang ada pada benak Dion.
Sifat seseorang bisa saja
berubah entah itu hanya sedetik, semenit, sejam, atau kapanpun dan dimanapun.
Namun jika berusaha merubah sifat seseorang tak semudah membalik telapak
tangan, tetapi sifat seseorang dapat saja berubah kearah positif jika seseorang
terbiasa dengan hidup disiplin dan bertanggung jawab.
TAMAT
Komentar
Posting Komentar